steffifauziah's blog

Writing with Heart, Love, and Feel Happy!

Kesalahan Penulis Pemula Saat Kirim Naskah ke Penerbit Mayor

Hai, Sobat Blogger!


Menjadi penulis di penerbit mayor dan buku-buku kita terpajang di toko buku, pasti semua penulis ingin seperti ini. Siapa sih yang enggak ingin bukunya ketika terbit, banyak yang membaca? Pasti mau dong? Saya pun, hihi. Nah, makanya penulis-penulis buku pasti selalu mengincar penerbit mayor.

Sebenarnya penerbit enggak hanya mayor doang kok. Ada penerbit indie juga. Tapi, pastinya berbeda ya cara menjual buku di penerbit mayor dan penerbit indie. Lalu apa pengertian masing-masing dari penerbit mayor dan penerbit indie ini?

Penerbit Mayor

Penerbit besar yang telah banyak menerbitkan buku-buku dari penulis terkenal. Naskah yang masuk ke penerbit ini, penulis mendapatkan royalti. Entah sistem jual putus atau sistem bagi hasil, bagi hasilnya biasanya sekitar 10%. Selain itu, ketika kita memasukkan naskah ke penerbit mayor lebih sulit. Kenapa? Seleksinya ketat dan hanya tulisan yang bagus, unik, menjual dan bermanfaat serta tulisannya sudah baik saja yang dapat lolos.

Tapi jangan harap buku disini cepat terbit, karena banyak prosesnya bisa bertahun-tahun buku kita baru terbit. Yang beruntung bisa hanya beberapa bulan terbit. Buku yang terbit di penerbit mayor ini biasanya akan masuk ke toko buku seluruh Indonesia. Kemungkinan bisa juga ke luar negeri jika dirasa buku yang terbit sangat layak diterbitkan disana.

Penerbit Indie

Penerbit ini bisa dikatakan penerbit kecil, meski enggak selalu. Juga ada penerbit besar yang masih indie kok. Bedanya dari penerbit mayor, ketika kita ingin memasukkan naskah maka biasanya ada biaya penerbitan. Harganya pun macam-macam. Tapi ada juga penerbit indie yang memberikan penerbitan gratis. Beberapa penerbit memberikan syarat minimum penjualan tetapi ada juga yang tidak menggunakan syarat.

Terbit buku di penerbit indie bisa dikatakan cepat, hanya beberapa bulan bisa terbit karena prosesnya tidak terlalu rumit seperti penerbit mayor. Namun, penulis hanya mendapatkan keuntungan dari pembelian buku yang terbit. Misal harganya 70 ribu untuk pelanggan, maka untuk penulis hanya dikenakan 60 ribu. Jadi, penulis baru bisa dapat untung dari penjualan buku ketika buku telah terjual.

Nah, itu tadi perbedaan penerbit mayor dan penerbit indie. Maka dari itu, penulis yang sudah sering menulis untuk penerbit indie biasanya ingin sekali coba ke penerbit mayor. Selain penjualannya lebih luas juga lebih bergengsi. Kadang bisa dibuatkan meet and greet ketika penjualan buku laris atau best seller. Wah siapa yang enggak mupeng coba? Hehe.

Untuk itu kali ini saya akan bahas beberapa kesalahan penulis pemula ketika baru pertama kali mengirimkan naskahnya ke penerbit mayor. Saya sudah beberapa kali pengalaman ke penerbit mayor meski baru antologi dan buku duet, hehe. Doakan bisa segera buku solo, hehe. Aamiin. Yuk, langsung kita cek saja apa saja kesalahan dari penulis pemula ini.

7 Kesalahan Penulis Pemula

Apa saja sih kesalahan penulis pemula ini? Sebenarnya bukan suatu hal yang memalukan. Namanya masih pemula pasti perlu banyak belajar dong, iya enggak? Saya pun masih sering kok melakukan kesalahan meski sudah beberapa kali kirim naskah ke penerbit mayor, heu. Sama-sama belajar kita ya, jika ada yang ingin ditambahkan juga silahkan beritahukan ke saya. Yuk, simak penjelasan versi saya di bawah ini :

1. Mengirim Naskah ke Email Tanpa Tulisan di Badan Email

Ketika kita akan mengirimkan naskah ke penerbit mayor jangan hanya naskah saja yang dikirimkan ke email. Tetapi sertakan tulisan di badan email. Editor akan lebih respect dengan naskah kita. Berikan subject email yang menyambung dengan naskah kita, supaya editor pun juga tahu tema apa yang kita berikan ke penerbit mayor.

Saya dapat tips ini ketika pernah mengikuti kelas cerita anak dan mentornya sendiri adalah editor dari salah satu penerbit mayor yang sudah terkenal. Mulai dari situ saya mulai aware untuk tidak lupa akan hal ini. Istilahnya sopan dengan editor, jangan ujug-ujug hanya memberikan naskah kita tanpa ada kata permisi dulu. Jadi, jangan lupakan tulisan di badan email, minimal kata-kata yang memberitahukan tentang tema naskah yang sedang kita ajukan.

2. Naskah di Kirim ke Banyak Editor


Kirimkan naskah ke satu editor saja jangan semua editor dalam satu penerbit. Setiap editor biasanya sudah ada ketentuan tema apa yang dia pegang. Jika kita lebih hati-hati ketika akan mengirimkan naskah, maka akan lebih mudah naskah kita langsung dipegang oleh editor yang sesuai dengan naskah tema kita. Baca lebih seksama lagi di website atau pemberitahuan dari penerbit mengenai hal ini supaya tidak salah mengirimkan naskah, ya.

3. Naskah di Kirim Tidak Sesuai Format yang di Minta Penerbit

Biasanya setiap penerbit memiliki format khusus ketika kita akan mengirimkan naskah. Ada yang minta outline dulu dan ada yang minta naskah full. Itu semua tergantung dari penerbit. Pahami dulu naskah yang diminta oleh penerbit. Jangan sampai kita salah kirim karena terburu-buru. Seharusnya yang dikirim naskah full tapi kita kirim hanya outline. Pasti lah naskah kita akan langsung ditolak karena salah mengirimkan format naskah.

Jangan sampai salah ya, gaes. Seorang penulis harus gemar membaca. Jadi, sebelum akhirnya kirim naskah cek dulu ketentuan dari penerbit tersebut. Biar apa? Biar enggak salah. Jangan sering-sering loh, nanti penerbit mayor hafal sama kesalahan kamu, terus ogah deh kerjasama. Duh, jangan sampai, ya!

4. Kadang, Naskah juga di Kirim ke Banyak Penerbit

Ke banyak editor aja enggak boleh apalagi ke banyak penerbit. Ketika mengirim naskah kita harus melakukannya satu per satu penerbit ya, gaes. Misal, kita mengirim naskah ke penerbit A. Tunggu konfirmasi penerbit A hingga tuntas baru deh jika ditolak pindah ke penerbit B. Jadi, jangan buru-buru, ya. Mereka juga manusia dan pastinya yang mengirimkan naskah ada buanyak banget. Ke bayang dong ya seribet apa penerbit itu, hehe.

Kirim saja ke satu penerbit dan mulai menulis lagi dari pada kesel nunggu kabar dari penerbit. Dengan begitu kita akan terus produktif untuk menghasilkan karya. Wah, keren deh.

5. Asal Kirim Naskah Tanpa Melihat Penerbit Tersebut Memiliki Genre Khusus


Kamu punya naskah novel remaja tapi masukkan naskahnya ke penerbit Quanta Kids. Enggak nyambung, gaes. Cek dulu deh. Penerbit mayor mana yang menerima novel remaja. Baru deh kamu kirim naskahnya kesana, ya. Jangan asal kirim yang penting sudah ke kirim ke penerbit. Lah, kalau penerbitnya aja salah. Bagaimana naskah kamu bisa terbit? Yang ada itu naskah kamu langsung di delete sama editornya karena salah alamat. Enggak mau kan?

Nah, jadi mulai lah berhati-hati, ya. Baca dengan seksama penerbit yang bisa menerbitkan novel remaja kamu itu. Jangan sampai salah alamat apalagi sampai ke alamat palsu *kaya lagu, wkwk. Yuk, mulai cari tahu genre penerbit biar enggak salah melulu.

6. Tidak Sabar Untuk Segera Terbit

Baru juga seminggu itu naskah masuk ke penerbit, kamu sudah enggak sabar dan selalu kirim email menanyakan naskahmu. Sabar, gaes. Biasanya penerbit punya ketentuan kok sekitar 2-3 bulan untuk mengabari apakah naskah kita diterima atau tidak. Ada pun yang mengabari kalau naskah kita di tolak, ada juga yang tidak. Jika sudah lewat 3 bulan, enggak ada salahnya kita tanyakan kembali takutnya terlewat.

Tapi, jika tak ada balasan juga, ya berarti kamu belum rezeki di penerbit tersebut. Jangan sedih, yes. Masih banyak kok penerbit mayor lainnya. Tetap semangat untuk mencoba ke penerbit lain,ya. Intinya sabar kalau naskah masuk penerbit mayor. Banyak loh yang sudah satu hingga dua tahun tidak terbit juga bukunya di penerbit mayor. Jadi, tetap bersabar!

7. Sulit Dihubungi Ketika Naskah Ada Revisi


Ketika sudah ada kata "Selamat" pada balasan email dari penerbit. Itu tanda bahwa naskah kamu keterima. Hore! Selamat, ya. Tapi, jika ada revisi dari editor jangan langsung hilang gitu aja dong. Ayo revisi naskah kamu, ya. Jika ada kesalahan atau sesuatu hal pada naskahmu adalah hal wajar kok. Editor pun minta revisi supaya naskah kamu semakin oke punya.

Jadi, jangan sulit dihubungi sama editor ya. Ayo perbaiki naskah kamu agar layak di baca sama orang banyak. Terus buku kamu bisa bermanfaat deh. Wah, kamu pun kemudian hari akan bangga sama karya yang telah berhasil kamu terbitkan. Iya enggak?

Itu tadi beberapa hal mengenai kesalahan penulis pemula ketika akan kirim naskah ke penerbit mayor. Sebenarnya enggak ke penerbit mayor saja sih. Sama juga ke penerbit indie. Tapi, jangan sampai salah ya cari penerbit indie. Nanti malah ketipu atau kena zonk. Kan sedih banget jadinya. Seharusnya buku terbit itu bahagia bukannya malah sedih karena harus bayar sekian padahal katanya gratis, heu.

Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita, ya. Saya pun juga masih banyak belajar ketika mengirim naskah ke penerbit mayor, hihi. Oh, ya kamu punya tips lain enggak? Boleh dong share di kolom komentar di bawah ini, ya.

Salam,

Comments

  1. Mesti cek dan ricek dulu ya sebelum mengirim naskah ke penerbit...siap mbak, terimakasih infonya

    ReplyDelete
  2. so, penting banget ya mempelejari gaya, genre, dan visi misi suatu penerbit. Biar gak salah alamat kirim naskah hehe

    ReplyDelete
  3. Poin 1 itu penting banget, bukan cuma ke penerbit mayor sih, tapi sudah menjadi etika dalam ber-email untuk setidaknya mengandung pembuka, isi, dan penutup.

    ReplyDelete
  4. Jangan lupa terus berdoa sebanyak banyaknya☺
    Aku juga pengen banget nih bisa tembus ke penerbit mayor. Ternyata tidak bisa ya kita sebar naskah ke beberapa penerbit sekaligus. Soalnya kan seringnya tidak sabar nunggu ke satu penerbit. Jadi maunya sekalian aja ehehe
    Tipsnya oke, mbak. Semoga kita kelak bisawberhasil tembus penerbit mayor

    ReplyDelete
  5. Dapat bocoran tips nih, next dibahas juga nama-nama penerbit mayor dan Indi ya mba

    ReplyDelete
  6. Wah aku baru tau, kirain kalo kirim.naskah ke penerbit bebas aja mau kirim langsung ke beberapa penerbit hehe.. memang baiknya satu per satu yaa.. makasih sharingnya mbak steffi.. mudah2an suatu hari aku bisa lihat bukuku mejeng di toko2 buku, keren ya sepertinya heheh, #bikinnaskahajabelom ��

    ReplyDelete
  7. Klo kemaren pas bikin antologi katanya aki marginnya tidak sesuai.padahal dilaptop aku settingannya udah bener. Apakah aplikasi software office juga ngaruh mbak? Kebetulan emang gak pernah di update. Ms office masih yang versi 2010 huhu

    ReplyDelete
  8. Belum berani nulis buku solo mbak. Belum berani jg hunting penerbit mayor, hehe. Nulis lewat antologi sj dah lumayan ngasah tangan buat nulis.
    Maklum penulis kemarin sore, hihi. #nyengirsambiltutupmuka

    ReplyDelete
  9. wah terimakasih tipsnya ya mbak...kebetulan ada niat kuat buat bikin buku solo nih...tapi sampai detik ini aku masih baru bikin outlinenya hiks��

    ReplyDelete
  10. Keren banget nih, infonya. Kebetulan saya lagi muoeng nyoba ngirim naskah ke penerbit mayor. Majasih infonya ya mbak

    ReplyDelete
  11. Tips aku adalah ikutin aja tips dari Mbak Steffi, wkwkwkwk ... Ini entahlah, antara promosiin blognya Mbak Steffi atau sakingnya nggak ngerti mau kasih tips apaan, qrkqrkqrk ...

    Tapi ini beneran bermanfaat lho, Mbak Steffi. Aku tuh - sama kali ya dengan banyak teman-teman di luar sana, yang kepengen punya buku solo nangkring manis di rak toko buku gede, tapi bingung mau ngapain dan yang sudah dilakuin ternyata malah menggiring si penerbit buat ogah menerbitkan naskah kita. Semogaaa bekal ini bisa membawa naskahku ke penerbit mayor, ya. Aamiin.

    ReplyDelete
  12. Wah info penting dan menarik nih, terimakasih sudah berbagi tips:)

    ReplyDelete
  13. bener mba, kirim naskah ke penerbit mayor harus nyetok kesabaran yang luar biasa. pengalamanku pas buku pertama sampe setahun baru bisa naik cetak hehe.. harus semangat pokoknya.

    ReplyDelete
  14. Terimakasih atas sharenya yang bermanfaat, aq belum pernah menerbitkan buku, in sya Allah suatu waktu nanti, Aamiin

    ReplyDelete
  15. Catet!Penting banget nih. Aku lagi rencana juga mau kirim naskah anak. Bismillah semoga kali ini beneran tuntas.

    ReplyDelete
  16. Pas banget ini. Setelah saya nyobain nerbitin novel secara indie, pengen juga sih ke penerbit mayor.
    Tipsnya berguna banget ini. Terutama tentang kesabaran menunggu. Harus itu.
    Oia, Kan sering tuh penerbit mayor ngadain lomba. Bisa lebih praktis tuh karena akan cepat ketahuan naskah Kita sesuai yg dilombakan atau tidak. Saya penasaran dengan yg format lomba seperti itu.

    ReplyDelete
  17. Terima kasih tips nya. insya Allah jadi pengingat kalau mau kirim naskah. Sampai sekarang naskah buku solo belum rampung,hehe.

    ReplyDelete

Post a Comment

Silahkan tinggalkan pesan dan tunggu saya approve komentar kamu, ya.

back to top