steffifauziah's blog

Writing with Heart, Love, and Feel Happy!

Apakah Selama Ini Sholat Kita Salah? (Bagian 1)

Bagaimana ibadah kita sekarang? Apakah sholat menjadi sebuah kebutuhan atau hanya sebuah kewajiban saja? Untuk orang-orang yang baru saja mengatakan "Saya sudah berhijrah", apakah sudah mulai memperbaiki sholat?



“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” 
(HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Sering sekali kita dengar hadits diatas. Bahwa ibadah adalah tiang agama. Pokok dari agama islam adalah sholat. Jika sholatnya rusak maka rusak pula agamanya. Lalu, apakah kita sudah benar-benar mempelajari sholat dengan benar? Hijrah yang sesungguhnya adalah mempelajari lagi bagaimana cara beribadah kita kepada Allah Ta'ala.

Jika untuk sekarang saja kita sholat masih sama seperti sebelum berhijrah, apakah itu tanda kita sudah benar-benar hijrah? Ketika sholat hati masih malas, masih memikirkan hal lain, masih menunda, belum khusyuk dll. Lalu bagaimana kah cara kita agar benar-benar sholat dengan baik?

Coba kita perhatikan dengan seksama kisah ini. Semoga bisa kita ambil hikmah dari kisah tersebut. Insyaallah.


Istiqomah Sholat Berjama’ah di Masjid Selama 37 Tahun

Haji Muhammad adalah seorang tukang reparasi pipa. Beliau berkebangsaan Afganistan yang tinggal di kota Madinah. Beliau sering sekali terlihat dalam siaran langsung ketika shalat berjamaah 5 waktu di Masjid Nabawi. Pakaiannya sangat unik, yaitu mengenakan peci berupa turban hitam khas orang Bengali. Belum lagi perawakannya yang tinggi besar. Tentu sangat mudah mengenali beliau.

Beliau adalah seseorang yang populer di Madinah karena selama kurang lebih 37 tahun selalu istiqomah. Beliau selalu tampak di televisi dengan penampilannya yang begitu khas. Selain itu, beliau juga selalu berada di shaf pertama ketika sholat berjama’ah. Hal inilah membuat banyak orang terkagum-kagum dengan keistiqomahannya. Masyaallah.

Haji Muhammad bercerita bahwa ia pertama kali berada di Arab Saudi ketika umurnya 19 tahun. Hingga saat ini kurang lebih sudah seperempat abad dirinya berada di Arab. Pekerjaannya sebagai tukang reparasi pipa tak membuat dirinya lalai dalam sholat berjama’ah di Masjid Nabawi.

“Aku berupaya untuk selalu shalat 5 waktu secara berjama’ah di Masjid Nabawi sejak aku masih muda. Aku sangat senang mengambil dan meletakkan kembali Al-Qur’an yang telah dibaca dan ditinggalkan oleh para pengunjung, agar dapat rapi tertata kembali di lemarinya semula,”
kata Haji Muhammad.

“Ketika aku mengikat kontrak kerja dengan seseorang, kukatakan dari awal, aku tidak ingin kehilangan satu kali pun shalat berjamaah di Masjid Nabawi. Pada bulan Ramadan, aku meliburkan diri karena aku ingin selalu berada di masjid,” lanjut Haji Muhammad menjelaskan.

Apa yang disampaikan beliau ketika saat itu membuat siapapun terkesima dengan keistiqomahannya. Beliau tak hanya dikenal oleh orang-orang Madinah saja tetapi para jamaah dari luar Madinah dan jamaah luar Arab sangat terkesan dengan beliau. Apalagi selama 37 tahun itu beliau selalu dapat di tempat shaf pertama. Padahal kita semua tahu tempat itu sangat sulit untuk didapatkan. Dikarenakan sangat banyaknya jamaah setiap hari yang sholat di Masjid Nabawi. Tentu shalat di shaf pertama akan jadi rebutan banyak orang.

Bahkan beberapa orang yang sering mengunjungi Madinah dari luar Arab banyak yang sudah kenal dengan beliau ini. Pakaiannya yang unik, yaitu turban hitamnya tersebut yang membuat orang-orang sangat mudah mengenali beliau. Semoga Allah selalu menjaga beliau agar senantiasa selalu istiqomah hingga akhir hayatnya. Aamiin.


Pelajaran dari Kisah Haji Muhammad dapat Kita Ambil Tauladannya!

Pertama kali membaca kisah Haji Muhammad di website kisahmuslim.com, terbesit bahwa diri kita ini sangat jauh dari kata sempurna ketika ibadah. Sangat malu sekali. Apalagi ketika kita sibuk dengan pekerjaan dunia. Sholat dijadikan nomer yang kesekian. Adzan yang berkumandang tak lagi membuat kita ingat Allah.

Dalam diri kita yang terpenting bagaimana pekerjaan ini bisa membawa materi yang lebih banyak. Naudzubillah min dzalik. Semoga Allah mengampuni kita dan kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga dari kisah beliau ini.

Padahal diri ini selalu mengatakan telah hijrah dan kembali ke jalan Allah. Benarkah demikian? Jika sholat saja masih dalam tahap sebagai kewajiban bukan kebutuhan dalam hati kita. Sudah tentu kisah Haji Muhammad memberikan pelajaran yang sangat besar. Bahwa seperti beliau, ibadah sholat yang beliau lakukan adalah hal yang patut ditiru untuk semua muslim yang katanya telah berhijrah.

Lalu, apa saja pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah Haji Mahmud? Setidaknya ada 3 hal yang bisa kita jadikan hikmah. Semoga kita bisa mengubah diri menjadi lebih baik dalam beribadah kepada Allah Ta’ala :

1. Memperbaiki Waktu Sholat

Dalam kisah Haji Muhammad, beliau sangat mempertahankan kebiasaannya sholat diawal waktu. Sampai-sampai beliau selalu berpesan kepada partner kerjanya agar ketika mendekati waktu sholat, beliau izin untuk sholat di Masjid Nabawi. Bisa jadi hal itu adalah kontrak kerja yang bagi sebagian orang adalah aneh.

Tapi untuk Haji Muhammad itu adalah salah satu cara agar dirinya bisa sholat berjama’ah, di shaf terdepan di Masjid Nabawi. Masyallah. Tak perlu diragukan lagi, bahwa beliau memang seseorang yang patut untuk dijadikan tauladan untuk kita semua.

2. Mendahulukan Akhirat daripada Dunia

Tak banyak dari kita yang selalu mengakhirkan akhirat. Kita selalu berpikir bahwa akhirat itu urusan nanti ketika kita sudah mencapai usia uzur. Yakinkah kita sampai pada usia tersebut? Jika Allah berkendak untuk mencabut usia kita sekarang, kita bisa apa? Tentu ini pemikiran yang sangat keliru.

Lihatlah kisah Haji Muhammad, semenjak pindah ke Madinah di umur 19 tahun. Beliau tak pernah meninggalkan sholat berjama’ah di Masjid Nabawi dan selalu di shaf terdepan. Padahal kita semua tahu mendapatkan shaf terdepan sangat sulit. Jam berapa kira-kira Haji Muhammad sudah berada di Masjid Nabawi di setiap saat ketika akan sholat? Wallahu’alam.

Intinya beliau selalu mengutamakan sholat dibandingkan hal lainnya. Bagi beliau akhirat adalah nomer pertama, dunia nomer yang kesekian. Untuk itulah beliau selalu istiqomah dalam ibadah dan dijadikan sebuah kebiasaan yang luar biasa hebatnya.

3. Tidak Takut Kehilangan Rezeki

Bagi Haji Muhammad rezeki sudah Allah yang mengatur. Tidak lagi merasa khawatir akan kehilangan rezeki. Ketika beliau sudah yakin akan hal itu. Beliau dengan tenang tetap sholat diawal waktu, bahkan tidak bekerja sebulan penuh pada bulan Ramadan dan hanya ingin berada di Masjid Nabawi sepanjang waktu.

Apakah kita bisa seperti beliau? Mungkin untuk yang memiliki pekerjaan di kantor tidak dapat melakukan hal ini. Namun, bisa untuk mengusahakan segera pulang ketika jam kantor berakhir. Agar tetap bisa melaksanakan sholat teraweh di masjid secara berjama’ah.

Bagi yang mengaku sebagai freelancer seharusnya ini adalah salah satu cara kita percaya bahwa rezeki kita sudah diatur. Agar bisa fokus untuk tetap beribadah tanpa ada yang mengganggu. Namun tak banyak yang berani melangkah akan hal ini. Katanya mumpun suasana Ramadan, pekerjaan lebih banyak dan lebih menghasilkan. Bisa untuk menambah-nambah pemasukkan. Padahal ini ujian dari Allah untuk kita. Agar kita bisa lebih bijak dalam urusan rezeki. Lalu, siapkah kita untuk bisa seperti beliau? Mari persiapkan diri kita dalam ibadah sholat ini.

Tak dipungkiri bahwa 3 hikmah diatas akan membuat kita semakin sadar. Sadar selama ini sudah salah menafsirkan apa kata hijrah itu. Bisa jadi hijrah yang kita lakukan bukannya semakin baik tetapi malah hanya berpindah dari dosa. Naudzubillah min dzalik.

Sudah saatnya kita semakin memahami bagaimana menjadi muslim dan muslimah yang benar-benar sesuai syariat. Sebagaimana ajaran Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Semoga dari kisah Haji Muhammad kita semakin siap untuk benar-benar hijrah dengan salah satu cara memperbaiki sholat. Insyaallah.

Apakah Selama Ini Sholat Kita Salah? (Bagian ke 2) akan dilanjutkan di postingan berikutnya dengan pembahasan ciri-ciri sifat sholat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, doa setelah sholat fardhu yang sesuai dengan syariat dan doa agar kita semakin rajin sholat.

Salam,

Comments

  1. Duh, langsung merasa tertampar keras ini. Semoga semua ibadah salat kita bisa diterima oleh Allah SWT ya mba, aamiin 😊

    ReplyDelete
  2. Terimakasih udah jadi pengingat ya neng!

    Semoga ibadah ini bisa ikhlas dilakukan hanya karena Allah

    Sedih saya mendengar ketika ada seorang sahabat yang hijrah (rajin sholat) hanya karena seseorang & dia merasa semangat ibadah karena orang tersebut sehingga dengan mudahnya mengatakan kalo orang tersebut ibadahnya pasti sangat ikhlas

    Dan menyepelekan orang yang lainnya

    ReplyDelete
  3. Terimakasih pengingatnya,memperbaiki kualitas salat agar kualitas hidup semakin baik

    ReplyDelete

Post a Comment

Silahkan tinggalkan pesan dan tunggu saya approve komentar kamu, ya. Terima kasih telah meninggalkan komentar.

back to top